Beranda > Cerpen Islami > Bidadari Surga

Bidadari Surga

99-cerpen-islami-1-l-280x280Cerpen Karangan: Dita Atma Nila Sari

Semua orang tahu bahwa aku termasuk anak yang berbakti. Aku kuliah di sebuah PTN di kota. Orangtuaku tergolong orang yang mampu. Dalam artian mampu memenuhi semua kebutuhan dan keinginanku.
Kehidupanku berjalan biasa-biasa saja. Sampai akhirnya aku bertemu seseorang ketika aku menunggu bus di halte. Mungkin karena aku pulang terlalu malam jadi bus tidak ada yang melintas. Sampai berjam-jam aku menunggu bus. Tiba-tiba datang dua orang yang menghampiriku.
“Mau kemana Non? Malam-malam kok sendirian. Ikut kami yuk.” Kata salah seorang tersebut.
“Enggak Bang. Saya lagi nunggu bus.” Kataku tetap santai.
Mereka mendekatiku dan mencoba menggangguku. Aku berteriak dan mencoba memberontak. Tapi kurasa sia-sia saja. Secara kekuatan aku jauh lebih lemah dari pada mereka. Dan secara jumlah aku pun kalah.

Di tengah kebingunganku, datang seorang laki-laki bermotor kemudian menolongku. Dua orang yang menggangguku tadi pergi. Kemudian pemuda yang menolongku menghampiriku dan memperhatikanku sejenak.
“Mbak nggak apa-apa? Kok malem-malem masih di sini?” Tanya laki-laki tersebut kepadaku.
“Aku nggak apa-apa. Hanya shock saja. Aku tadi kemaleman pulang dari kampus. Makasih udah nolongin aku. Kamu siapa?” tanyaku. Tubuhku masih berasa gemetar karena kejadian tadi.
“Saya Andi. Mbak sendiri siapa?”
“Namaku Maya.” Jawabku singkat. Aku heran mengapa dia tidak menjabat tanganku.

Kemudian Andi mengantarku pulang sampai ke depan rumahku. Sebelum aku masuk pagar, dia memanggilku dan memberiku sedikit saran.
“Mbak kalo boleh saya menyarankan, sebaiknya Mbak menutup aurat. Bukannya saya mau mengatakan bahwa Mbak mengumbar aurat. Tapi alangkah baiknya jika Mbak mau berhijab. Mungkin itulah alasan mereka tadi mengganggu Mbak.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum sedikit padanya dan berlalu meninggalkan dia yang masih di atas motornya sambil terus tersenyum memandangku. Namun aku tak menghiraukannya. Aku tetap berjalan dan memasuki pintu rumah dan menutup kembali tanpa menghiraukannya yang masih memandangiku.

Siang itu aku berniat pulang kampus lebih awal karena badanku terasa demam. Masih di area kampus aku berjalan dan kemudian seseorang menabrakku. Buku-buku orang tersebut jatuh berserakan. Sementara aku sendiri jatuh tersungkur.
Orang yang menabrakku membantuku berdiri. Aku memandanginya secara seksama. Begitu pula dia. Ternyata orang yang menabrakku adalah Andi, orang yang kemarin malam menolongku. Aku tak menyangka kami bertemu kembali.

Andi mengajakku mengobrol di taman. Aku tak jadi pulang. Karena aku tiba-tiba merasa lebih baik. Aku mengucapkan terima kasih kepada Andi karena telah menolongku. Dia juga meminta maaf karena tadi telah menabrakku dan membuatku jatuh tersungkur.

Ternyata Andi adalah mahasiswa di kampus yang sama denganku. Dia mengambil jurusan teknik. Sekarang dia sedang semester 5. Itu berarti dia adalah seniorku.
“Nggak nyangka ternyata kita satu kampus. Tapi maaf ya aku harus ke kelas.” Katanya. Lalu dia pergi meninggalkanku.
Sejak aku berkenalan dengan Andi aku merasa ada yang berbeda. Dia adalah cowok teralim yang pernah aku kenal. Dia selalu mengingatkanku untuk sholat. Aku tahu setiap hari senin dan kamis dia berpuasa. Dan aku sering lihat dia duduk di masjid kampus sambil berdzikir. Dan dia selalu mengucap salam ketika sms ataupun telepon.

Andi selalu bilang bahwa aku cantik. Namun akan lebih cantik lagi jika aku berhijab. Yah, itulah kata Andi padaku ketika kita tak ada obrolan yang menarik untuk diperbincangkan. Dan aku rasa aku telah jatuh cinta pada Andi.

Setiap hari aku browsing di internet tentang ilmu-ilmu Islam. Termasuk perintah berhijab. Aku mendownload juga beberapa video tutorial hijab untuk aku praktekkan nanti. Dan aku setiap hari belajar betingkah anggun.

Pagi itu aku berangkat ke kampus. Itu adalah hari pertamaku ke kampus dengan menggunakan hijab. Awalnya semua orang memandangiku keheranan. Mungkin mereka bertanya-tanya apakah aku sakit atau gila. Tapi bukan. Aku justru sadar dari kegilaan karena cintaku pada Andi.

Saat aku duduk di taman, Andi menghampiriku. Tak lupa ia mengucapkan salam kepadaku. Ia tampak senang melihatku berhijab. Aku senang Andi menyukai penampilanku yang sekarang. Aku berharap Andi juga mencintaiku.
“Kamu terlihat semakin cantik menggunakan hijab itu, May.” Katanya padaku. Dia nampak tercengang melihatku tersenyum padanya.
“Aku ingin bertaubat. Aku ingin menjadi bidadari di surga nanti bila aku telah tiada. Aku ingin terlepas dari jilatan api neraka yang akan menggores kulitku. Aku ingin menjaga pandangan kaummu terhadapku.” Kataku.
Saat kami asyik berbincang datang seorang cewek berhijab menghampiri kami. Cewek itu tersenyum padaku dan pada Andi. Kemudian dia mengulurkan tangannya kepadaku dan sambil tetap tersenyum.
“Namaku Aini.” Katanya.
Aku menjabat tangannya sambil menyebutkan namaku. Dia memang gadis yang cantik. Jauh lebih cantik dari pada aku.
“Perkenalkan ini kekasihku. Dia baru saja pulang dari kampungnya karena Ayahnya sakit. Dia juga kuliah disini. Dia juga ambil fakultas ekonomi. Seperti kamu.” Kata Andi
Hatiku terasa seperti dirobek ketika tahu bahwa Aini adalah kekasih Andi. Dan dia kuliah di kampus yang sama dengan aku dan Andi. Aku merasa bahwa apa yang aku lakukan buat Andi adalah sesuatu yang sia-sia belaka. Aku mencintainya saat dia telah melabuhkan hatinya untuk cucu Hawa yang lain.

Secara fisik memang Aini lebih menang dari aku. Secara IQ mungkin kami imbang. Secara keimanan mungkin Aini lebih mengerti lebih jauh tentang Islam dari pada aku. Namun secara material Aini kali ini kalah dari aku. Aini ternyata kuliah di kampus itu karena beasiswa. Aini dari golongan keluarga kurang mampu.

Setelah kejadian itu aku berusaha menghindar dari Andi. Aku nggak mau menyiksa diri dengan membiarkan mata ini melihat Andi ataupun Aini. Aku ingin membunuh perasaan yang tertanam dalam hati. Aku ingin melupakan siapa itu Andi dan siapa itu Aini.
Namun aku tak bisa menyalahkan Andi atau pun Aini. Aku tahu mereka saling menyayangi. Mungkin aku adalah satu dari sekian banyak wanita yang pernah menyukai Andi. Andi memang tampan, pandai, baik dan hidupnya pun berkecukupan. Pantas banyak wanita yang menyukainya. Namun hanya Aini yang beruntung.

Siang itu Aini mengajakku untuk makan bersama di sebuah restoran. Katanya dia ingin berbicara sesuatu denganku. Entah apa yang ingin dia bicarakan. Apakah itu tentang hubungannya dengan Andi? Atau dia ingin bercerita bahwa dia dengan Andi sudah bertunangan? Ya Allah, sanggupkah aku jika mendengar tentang itu?
“Aku ingin kamu tahu satu hal, May. Aku merasa bahwa Andi menyukaimu. Setiap aku dan dia bertemu, dia selalu menceritakan tentang dirimu. Dan saat dia menceritakan tentang dirimu, dia terlihat sangat bahagia dan bersemangat.” Kata Aini sambil menggenggam tanganku.
“Kamu.. Kamu pasti bercanda. Enggaklah Andi suka sama aku. Dia bahagia memiliki kamu. Aku nggak ada bandingannya bila dibandingkan dengan kamu. Percayalah bahwa Andi hanya mencintaimu.” Kataku sambil melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.
“Kamu salah. Aku melihat dari mata kalian saat kalian berbicara. Aku ingin kamu tahu bahwa aku besok akan ikut pamanku ke Kalimantan dan tinggal di sana selamanya. Tidak mungkin aku akan terus menjalin hubungan dengan Andi. Aku mau kamu yang menjadi penggantiku untuk Andi. aku yakin kamu orang yang tepat untuk Andi.” katanya sambil pergi berlalu.
Aku bimbang. Aku memang mencintai Andi. namun Andi tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Rasa itu hanya milikku, bukan milik Andi pula. Walaupun aku tahu Andi tidak lagi menjalin hubungan dengan siapapun tapi aku yakin Andi masih mengharapkan Aini.

Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Andi. kalaupun bertemu di kampus kami hanya berpapasan dan tersenyum. Rasanya hatiku ingin merelakan dia. Namun terlalu sakit untuk membiarkan itu terjadi. Namun di sisi lain, aku merasa diriku tidak pantas untuk Andi.
Hingga suatu hari Andi mengajakku mengobrol di taman ketika kami bertemu di kampus. Kami duduk berdua di taman. Dia terdiam sesaat sebelum mulutnya berkata.
“Maya, aku mencintaimu. Aku mencintaimu sedari dulu aku masih menjalin hubungan dengan Aini. Awalnya aku mengira ini hanya perasaan sesaat saja. Tapi aku salah, aku mencintaimu. Ingin aku menjauhimu agar aku tidak menyakiti perasaan Aini. Namun aku tak pandai menyembunyikan perasaan hingga akhirnya Aini mengetahui bahwa aku mencintai kamu.”
“Aku masih belum mengerti dengan semua ini.” Kataku.
“Aku ingin kamu menjadi pengganti Aini di hatiku. Aku ingin kamu menjadi bidadari surgaku. Aku ingin menjadi imammu kelak. Aku ingin menjadi ayah dari anak-anakmu nanti. Aku ingin menamai mereka dengan nama indah yang tersirat doa di dalamnya. Apakah kamu mau menikah denganku kelak?” Tanyanya sambil mengeluarkan sebuah cincin dari dalam sakunya. Lalu ia memasangkan cincin itu di jari manis tangan kiriku.
Aku hanya mengangguk. Dan meneteskan air mata haru. Aku merasa aku telah menemukan orang dimana aku nanti akan kembali padanya. Dan Andi berkata bahwa dia telah menemukan tulang rusuknya.

Cerpen Karangan: Dita Atma Nila Sari
Facebook: https://www.facebook.com/ditaatma.nilasari.1
Twitter: @ditaatma_ns
Lahir 7 Juni 1998
Sekolah: SMA N 1 Blora
Kelas: 10 Ipa

Kategori:Cerpen Islami
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: