Beranda > Cerpen Islami > Hujan Senja

Hujan Senja

99-cerpen-islami-1-l-280x280Cerpen Karangan: Septia Dwi Putri

Sore itu handphone yang ku taruh di atas meja belajar berdering tanda ada pesan masuk. Ternyata sahabatku naila, bukan kata-kata penting hanya kata iseng saja. Kubalas sms itu, hingga bonus sms pun tiba. Naila menceritakan seorang ikhwan di sekolahnya, ya aku dan nila tidak satu sekolah, naila berada di provinsi sumsel dan aku di lampung. “namanya fadly raa, ketua rohis di sekolah, rajin sholat, rajin puasa, pendiam juga”, ungkapnya panjang lebar. Salamkan saja ya, ungkapku dalam pesan itu. Adzan magrib berkumandang segera kulaksanakan perintahnya.

 

Esoknya pusing sudah kepalaku mengerjakan pr fisika, akhirnya kuputuskan tuk sms sahabatku naila, “gimana salamnya kemaren?”
“salam balik, katanya cin”
Entah setan apa yang berhasil membujukku untuk meminta no hp si ikhwan. Dengan mudah no hp itu ku dapatkan, dari siapa lagi kalau bukan dari naila.

Kuberanikan sms sang ikhwan, basa basi apa modus ya? Aku menanyakan satu dari sekian soal fisika yang tak ku ketahui apa jawabanya. Tak lama kemudian sms itu pun dibalas, ia menanyakan siapa aku?, otakku mulai berputar jika aku mengatakan siapa aku yang sebenarnya tentu ia akan menilai aku sebagai wanita gatel atau sejenis akhwat genit, oh Tuhan tidak tidak tidak, aku pun memilih untuk merahasiakan identitas ku, ku katakan padanya cukuplah mengenaliku lewat tulisan sampai waktu yang tepat jika Tuhan berkehendak tuk mempertemukan aku dan dirimu. Ia pun bisa menerima apa yang ku utarakan tersebut.

Suatu senja, ketika hujan tiba membasahi bumi tanpa sedikit pun diiringi petir ataupun kilat, kupandang butir-butir hukan itu bagai tangis rindu akan bumi yang telah lama tak tersentuh airnya, hp yang sedari tadi kupegang, sms fadly mendarat di hp ku, “jika suatu saat ku temukan engkau sebagai seorang dari kaum hawa, bolehkah aku mencintai dan menyangimu karenanya. Dan jika engkau seorang dari kaum adam bolehkan aku menjadikanmu seorang sahabatku”, tentu saja ku balas dengan kata boleh saja. Sejak saat itu sering sekali aku melakukan aksi bodoh yang dikenal orang dengan nama smsan.

Suatu ketika kutemukan suatu pelajaran baru yang belum ku tahu sebelumnya, intinya smsan dengan seorang ikhwan yang bukan muhrim sama saja dengan zina, kecuali jika mendesak dan amat penting, astagfirullah apa yang kulakukan selama ini, dengan sigap ku kirim pesan pada akhi fadly tentang apa saja yang baru ku ketahui dan ternyata ia pun baru mengetahui hal itu dariku. Oh anak SMA oh anak SMA, ilmunya tipis sekali. Sejak saat itulah kami menghentikan komunikasi di antara kami.

Bulan berlalu tahun berganti, Pagi yang cerah dengan semangat yang teramat mendaratlah pesawat yang ku tumpangi dari yogyakarta menuju palembang, setelah S2 UGM dapat kuraih, aku ingin kembali ke tanah pempek yang telah lama kutinggalkan, rindu memburu pada sahabat sahabat saat di smp dulu, dan juga dorongan keinginan teramat bertemu dengan ikhwan yang dulu pernah ku kenal lewat sms. Dari palembang menuju prabumulih aku memilih pergi dengan bus, sesampainya langsung saja aku menuju rumah sahabatku naila, naila memelukku erat air mata pun membanjiri kedua mata kami. Aku mengutarakan apa yang ku ingin pada sahabatku, esok ia berjanji akan mengantarku ke rumah akhi fadly.

Tak secerah pagi kemarin matahari memilih bersembunyi di balik awan, tak mengalahkan apa yang menjadi tujuan kami, welcome to akhi fadly, terbalik sepertinya, bukankah si ikhwan yang memulai, oh no.

Ku ketuk pintu, ku ucap salam bersamaan dengan naila, tak lama pintu dibuka, munculah seorang ikhwan dari balik pintu, sekilas ku tatap dan kembali kutundukkan pandangan. “silahkan masuk” ucapnya. Aku dan naila pun masuk, ruangan itu sederhana namun rapi dan unik menurutku. Langsung saja ku ucapkan apa yang selama ini mengendap di hati dan otaku. “subhanallah, insha Allah ana siap menjadi imam anti”, ucapnya, detak jantung dan gemetar yang ku tahan sendari tadi pun perlahan mereda, lirih kuucap alhamdulillah

Cerpen Karangan: Septia Dwi Putri
Facebook: Septia Dwi Putri Hafisaisyah

Kategori:Cerpen Islami
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: