Beranda > Cerpen Islami > Lima Menit Yang Lalu

Lima Menit Yang Lalu

99-cerpen-islami-1-l-280x280Cerpen Karangan: Siti Fatimah Binti Jafar

Tidak terasa sudah tiga bulan waktu berlalu. Dan aku masih disini, masih setia menunggu kepulangan Agung dari Yogyakarta. Meskipun ini bukanlah yang pertama kalinya dia pergi tanpa pamit. Aku tak peduli. Bagiku dia adalah laki-laki terbaik yang menjadi dambaan setiap wanita. Dulu aku harus berjuang keras mengalahkan semua gadis-gadis yang juga berharap bisa mendapatkan cintanya. Meskipun kedua orangtuaku tak pernah mau merestui hubungan kami, aku tetap kukuh mempertahankan cintaku padanya. Di hatiku hanya ada Agung, Agung dan Agung. Tak akan ada yang lain. Tak akan pernah ada cinta yang lain sekarang dan selama-lamanya. Aku tak perduli meskipun banyak orang yang selalu mencibir sinis setiap kali kami jalan bersama.
“Kok bisa ya bapaknya Haji tiga kali tapi kelakuan anaknya sungguh memalukan. Bisa-bisanya dia berhubungan dengan anak pendeta. Otaknya ditaruh dimana? Dia berjilbab tapi pacarnya memakai kalung salib sebesar jangkar kapal.” Begitulah kata mereka.
Aku pun langsung menanggalkan jilbabku. Jilbab yang sudah kupakai semenjak masih Tk dulu. Kedua orangtuaku marah besar. Tetangga semakin gencar menggosipi aku. Namun aku tak pernah perduli. Menurutku mereka hanya sekelompok orang-orang tak berguna yang kerjanya hanya berghibah. Dosa mereka lebih besar dari dosaku karena mereka memakan bangkai saudaranya sendiri. Terserah mereka mau bilang apa yang jelas aku bahagia menjadi kekasih Agung Saputra. Biarlah anjing menggonggong, aku akan tetap melangkah. Aku tak peduli meskpun agama kami berbeda karena cinta tak mengenal perbedaan. Lagi pula aku tak mungkin dipaksanya untuk mengikuti agamanya, sebab saat pertama kali kami jadian dia sudah berjanji akan mengikuti agamaku.

“Sayang, hari ini aku pulang. Tolong kamu jemput aku di stasiun kereta api pukul dua belas tepat. Aku sangat rindu padamu.” Begitu bunyi sms yang dikirim Agung pagi tadi.
Perempuan mana yang tak akan bahagia menyambut kepulangan kekasihnya? Apalagi sudah tiga bulan kami tak bertemu dan selama itu dia tak pernah sekalipun menghubungiku. Nomornya selalu tak aktif. Baru hari ini dia menghubungiku lagi dan mengabarkan kalau dia akan pulang.

Pukul setengah sebelas aku sudah berdandan rapi dan secantik mungkin. Aku ingin tampil sempurna di hadapan kekasihku. Aku harus berangkat lebih awal agar bisa mendapat kendaraan yang kosong. Soalnya sekarang hari jum’at anak-anak sekolah dan pegawai pulang lebih awal. Akibatnya bemo jadi sarat. Ojek pun tak akan bisa ditemukan soalnya hampir semua tukang ojek beragama islam. Biasanya jam setengah dua belas mereka sudah meninggalkan pangkalan. Aku tidak mau naik bemo soalnya aku kadang tak bisa menahan rasa marahku saat bocah-bocah ingusan itu menjadikan kaki cacatku sebagai objek perhatian mereka. Sering kali mereka mengejek kakiku yang cacat sebelah. Selain itu aku takut bila terlambat menjemputnya Agung akan marah besar. Dia paling tidak suka bila aku tak tepat waktu karena dia selalu on time bila kami janjian. Padahal dia tahu kalau sebelah kakiku cacat makanya tak bisa berjalan cepat.

“Kalau masih mau jadi pacarku kamu harus selalu on time. Aku tak suka punya cewek lelet. Kakimu yang cacat jangan dijadikan alasan keterlambatanmu. Masih banyak cewek sempurna di luar sana yang mengharapkan cintaku jadi kamu jangan bertingkah di hadapanku” Begitu katanya setiap kali aku terlambat. Dia tak peduli walaupun kami ada di tempat umum dia tetap saja menumpahkan amarahnya.

Aku takut Agung akan meninggalkanku. Aku tak ingin kehilangan dia. Lewat pintu belakang aku keluar dari rumah. Kedua orangtuaku sedang berbincang-bincang di ruang tengah makanya mereka tak melihat sewaktu aku kabur dari pintu belakang. Langkah kakiku semakin ku percepat akibatnya kaki kananku yang cacat terasa sangat sakit. Ya Allah kenapa Engkau takdirkan aku memiliki sebelah kaki yang kecil? Kaki sialan ini sangat menyebalkan. Gara-gara kaki cacat ini aku tak bisa melangkah dengan cepat sehingga selalu terlambat menemui kekasihku. Nasibku memang sangat-sangat sial.

Aku menghabiskan waktu setengah jam untuk bisa sampai di pangkalan ojek. Naasnya lagi saat aku sampai tak ada satu pun ojek yang terlihat. Entah pergi kemana mereka semua. Padahal biasanya pangkalan ojek selalu ramai. Terpaksa aku berjalan kaki lagi menuju terminal angkot. Bedak yang kupakai sudah terhapus gara-gara keringat yang membasahi wajahku. Aku sangat lelah namun keinginan untuk bertemu Agung membuatku tak menghiraukan kaki kananku yang nyeri. Beruntung ketika sampai di terminal masih ada satu kendaraan yang menuju ke stasiun. Saat mau naik ke dalam angkot seorang anak lelaki pedagang rok*k membantuku naik.
“Terimakasih, Dik.” Ucapku dan dia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah. Dalam hati ada sedikit rasa perih, anak laki-laki yang tak kukenal itu begitu tulus membantuku tanpa kuminta. Tidak seperti Agung. Mana pernah dia membantuku malahan dia selalu bersikap seolah-olah kami tak saling kenal. Waktu kutanya apakah dia malu memiliki pacar cacat dia malah marah-marah. Katanya dia bukannya malu, dia hanya ingin aku mandiri dan jangan bergantung padanya. Walaupun sudah setahun pacaran aku masih belum bisa memahami sikapnya yang selalu berubah-ubah. Kadang dia penuh perhatian tetapi kadang dia bersikap tak peduli.
“Kakak mau kemana?” Tanyanya ramah. Celana seragam biru panjang yang dipakainya menandakan kalau dia siswa MTs. Memang banyak anak-anak kurang mampu yang bekerja sepulang sekolah.
“Mau ke stasiun, Dik. Mau menjemput pacar.” Entah kenapa aku bisa sejujur ini padanya.
“Mengapa kakak tidak menunggu di rumah saja? Kasihan kaki Kakak kan cacat.”
“Kalau Kakak tidak menjemputnya nanti dia marah.”
“Dia pasti orang yang tak punya hati. Sudah tahu stasiun jauh dari rumah Kakak masih saja menyuruh Kakak menjemputnya. Kalau memang dia pacar yang baik kenapa menyiksa Kakak seperti ini? Baru jadi pacar saja sudah jahat begini apalagi nanti kalau sudah jadi suami.” Gerutunya.
Kata-kata bocah itu membuatku kesal sekaligus malu. Seandainya dia seusia denganku mungkin sudah ku gampar mulut usilnya. Seenaknya saja dia mengata-ngatai pacarku. Beberapa penumpang yang mendengar percakapan kami melempar pandangan dan senyuman sinis. Menyebalkan sekali. Mungkin mereka tak percaya cewek cacat macam aku bisa punya pacar. Tetapi biarlah aku tak perduli. Aku memutuskan untuk diam dan tak melayaninya bicara. Sewaktu turun di depan stasiun aku menolak uluran tangannya.
“Saya bisa turun sendiri.” tukasku ketus. Syukurlah kereta apinya masih sejam lagi baru datang. Berarti kali ini untuk pertama kalinya aku tidak terlambat menjemputnya. Kali ini aku tidak akan dimarahi lagi. Agar tidak jenuh aku menunggunya sambil mengisi TTS yang tadi kubeli dari anak laki-laki itu. Satu jam bukanlah waktu yang lama. Yang aku tunggu adalah kekasihku jadi anggap saja ini sebuah pengobanan cinta. Agung pasti akan memuji dan semakin mencintaiku.

Allahu Akbar… Allahu Akbar…! Terdengar suara adzan dari Mesjid yang terletak di seberang rel kereta api. Aku melirik jam tanganku, sudah pukul 12.10 menit. Kata Agung kereta api yang ditumpanginya akan tiba pukul dua belas tepat. Tapi kenapa sudah lebih sepuluh menit kereta apinya belum datang juga? Aku ingin bertanya pada petugas yang ada di loket namun wajah sangarnya membuatku takut. Kumis dan cambang memenuhi wajahnya. Kuputuskan untuk menunggu namun perasaanku mulai tak enak. Aku takut terjadi sesuatu dengan Ibu. Aku ingin menelpon tetanggaku namun sialnya Hpku ketinggalan di rumah. Dengan menahan rasa takut aku memberanikan diri bertanya pada penjaga loket.
“Maaf, Pak masih berapa lama kereta apinya tiba disini?”
“Darimana, Mbak?” Suaranya besar tapi sikapnya sangat ramah.
“Dari Yogyakarta.”
“Oooo… biasanya terlambat satu atau dua jam, Mbak. Ada keluarganya yang datang?”
“Pacar saya, Pak. Terima kasih.”

Satu atau dua jam lagi? Aduh bagaimana ini, tadi aku belum masak nanti kalau Bapak sudah pulang sholat jum’at beliau makan apa? Adik lelakiku mana bisa masak. Seandainya Ibu tidak buta beliau bisa masak buat Bapak. Sayangnya Ibu kehilangan penglihatannya setelah melahirkan aku. Kalau aku pulang takutnya ketika aku dalam perjalanan pulang atau kembali kesini kereta apinya sudah sampai. Bisa-bisa Agung marah besar dan meninggalkanku lagi. Di tengah kebingunganku bocah lelaki itu datang menghampiri.
“Ada apa?” Tanyaku ketus. Aku masih kesal padanya.
“Saya hanya mau duduk, Kak. Tidak boleh?” Mata beningnya menatapku lembut.
Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku pura-pura kembali mengisi TTS. Tetapi pikiranku dipenuhi wajah lapar Bapak dan tatapan kosong Ibu. Aku jadi tak bisa konsentrasi. Apakah aku harus terus menunggu Agung atau pulang dan hasil akhirnya dia memutuskan aku. Tidak, itu semua tidak boleh terjadi. Biarlah aku tetap menunggunya disini. Toh, Bapak bisa membeli makanan di warung.
“Kakak kenapa gelisah sekali? Kereta apinya belum datang ya? Kakak datangnya terlalu tempo. Lebih baik Kakak pulang saja. Kasihan kalau harus nunggu disini.”
“Kamu kenapa jadi anak kecil suka sekali ikut campur urusan orang dewasa? Kamu pikir karena tadi sudah menolong aku kamu lantas punya hak untuk ikut campur urusanku? Atau kamu mau minta bayaran?.” Emosiku naik kembali. Kuambil uang sepuluh ribu dari dalam tas lalu ku sodorkan padanya.
“Ini uang apa, Kak?” Tanyanya pura-pura bodoh membuatku semakin kesal.
“Ini upah karena kamu tadi sudah menolongku. Kenapa? Masih kurang? Kamu mau berapa?”
“Kakak jangan salah paham. Aku ikhlas menolong Kakak. Dan aku lebih mengharapkan upah dari Allah daripada Kakak. Kakak bukan muslim ya, pantas saja tidak tahu soal itu.”
Aku tercekat. Sekali lagi dia membuat dadaku sesak. Dulu ketika masih berjilbab orang langsung tahu kalau aku ini seorang muslim. Namun sekarang saudaraku sendiri tak bisa mengenaliku karena penampilanku sama dengan perempuan-perempuan kafir. Padahal pakaianku masih menutup aurat hanya jilbabku yang lenyap.
“A… Aku muslim. Namaku Siti Aisyah.” Leherku seperti dicekik saat mengucapkan kata-kata itu. Ada rasa perih yang semakin menjadi-jadi. Entah kenapa aku merasa sangat malu padanya.
“Nama Kakak bagus sekali sama dengan nama isteri Baginda Rosul. Namaku Muhammad Nur. Biasa dipanggil Nur sama Ibuku karena katanya biar aku selalu menjadi cahaya buatnya.”
“Namamu juga bagus. Cahaya Muhammad.”
“Kakak sudah sholat?”
“Belum.”
“Kenapa belum sholat? Di seberang jalan sana ada mesjid. Tadi saya sholat jum’at disana.”
“Waktu sholat dzuhur kan masih panjang. Biar sekalian nanti saya sholat di rumah saja. Satu jam lagi kereta apinya tiba.”
“Kakak yakin masih hidup sampai satu jam lagi?”
“A… apa maksudmu?”
“Sekarang aku mau nanya sama, Kakak. Tadi pacar Kakak minta dijemput jam berapa?”
“Jam satu.”
“Terus Kakak berangkat dari rumah jam berapa?”
“Jam setengah sebelas.”
“Kok Kakak berangkatnya setengah sebelas? Kenapa?”
“Rumah Kakak jauh dari jalan umum makanya Kakak takut terlambat dan membuat dia marah. Kakak sangat mencintainya. Kakak tidak ingin kehilangan cintanya. Sebenarnya maksud semua pertanyaan kamu ini apa? Apa hubungannya sholat dengan menunggu pacar?”
“Tentu saja ada hubungannya. Ketika azan berkumandang itu artinya Allah sedang memanggil kita untuk mengerjakan sholat. Sayangnya kebanyakan orang menunda menemui Kekasih Sejatinya hanya karena sibuk dengan urusan duniawi. Sama seperti Kakak. Kakak sangat takut terlambat menemui pacar Kakak sehingga nantinya dia marah dan meninggalkan Kakak. Tetapi Kakak sama sekali tidak merasa takut akan kemarahan Allah karena Kakak tidak langsung menemuinya ketika mendengar azan. Waktu sholat selalu Kakak tunda dan mungkin kadang Kakak abaikan panggilan Allah itu. Coba sekarang Kakak pikir baik-baik seruan cinta Allah atau seruan cinta pacar Kakak yang harus Kakak dengar? Mana yang lebih menakutkan kehilangan cinta Allah atau kehilangan cinta pacar? Ingatlah Kekasih Sejati kita hanyalah Allah. Dan Allah tak pernah berdusta seperti manusia yang penuh dengan seribu janji namun ujung-ujungnya Allah-lah yang menentukan hasil akhirnya. Allah lebih tahu mana yang terbaik buat kita umatNya.”
Kata-kata Nur seperti air es membuat tubuhku menggigil. Aku bukannya menggigil karena kedinginan tetapi aku menggigil karena ketakutan. Aku sangat takut. Takut kalau apa yang dia katakan benar-benar terjadi padaku. Apa jadinya jika Allah meninggalkanku? Kerak neraka akan terbuka lebar menantiku. Dalam benakku terurai kembali perjalanan cintaku bersama Agung selama setahun ini. Aku ingat selama berhubungan dengannya aku jadi jarang mengikuti kegiatan Rohis di kampus. Aku selalu telat sholat dan terkadang tidak menunaikannya bila sedang pergi dengannya. Aku jadi tak fokus kuliah dan lebih banyak menghabiskan waktuku bersamanya. Setiap kali dia sms atau telepon mengajak ketemuan aku selalu berbohong pada kedua orangtuaku agar diijinkan keluar rumah. Aku tak pernah lagi mengurus Ibu yang buta. Hidupku jadi penuh sandiwara. Sandiwara yang terkadang menyiksaku.

Berkali-kali aku menangkap basah Agung pergi dengan perempuan lain namun janji-janji manisnya membuatku tak berdaya. Bukan cinta yang membuat kedua mataku tertutup namun nafsu untuk memiliki Agunglah yang membuat aku tak berdaya. Terkadang aku tak bisa membedakan di antara keduanya. Namun hari ini aku sudah menemukan jawabannya. Selama ini aku sudah menjadikan Agung tuhanku hanya untuk mendapatkan cintanya. Sekarang aku ingin kembali pada dien-ku. Aku ingin kembali mengejar cinta Rabb-ku yang Agung. Apapun yang terjadi nanti akan aku terima dengan hati yang ikhlas. Seperti kata bocah itu Allah tahu mana yang terbaik buat HambaNya.

Aku berdiri dan meluruskan niatku. Aku mau pulang. Aku ingin minta maaf pada Bapak, Ibu dan adikku. Selama ini aku sudah membuat mereka malu dengan kelakuan burukku. Melupakan kewajibanku sebagai seorang anak dan kakak yang baik. Aku ingin mohon ampun pada Allah karena selama setahun ini aku sudah melupakan fitrahku sebagai seorang hambaNya.
“Kakak mau kemana?” Tanya Nur.
“Pulang.” Jawabku mantap.
“Kereta apinya sebentar lagi sampai, Kak. Tuh, suara peluit lokomotifnya sudah terdengar. Kakak tidak mau menjemput pacar Kakak? Nanti dia marah. Kakak tidak takut dia akan meninggalkan Kakak?” Walaupun dia bertanya begitu dari cara bicaranya aku sudah tahu kalau dia senang sekali.
Aku mengusap rambutnya yang masih basah terkena air wudhu.
“Bukankah katamu ada cinta yang lain yang lebih indah, suci dan agung dari cintanya? Lima menit yang lalu aku memang masih mencintainya. Namun setelah mendengar nasihatmu aku pun sadar kalau selama ini aku telah salah menilai perasaanku padanya. Apa yang aku rasakan selama setahun ini bukan cinta melainkan hanya hasrat untuk bisa memilikinya. Lagi pula dia bukan seorang muslim. Percuma Kakak mengejar cintanya, sebab tidak mungkin dia akan memberikan cintanya dengan gratis. Dan Kakak tidak mau membayarnya dengan iman di dada Kakak. Cukup sudah selama ini dia membuat Kakak jauh dari Allah. Aku ingin pulang dan mengejar cinta Tuhanku.”
“Kakak tidak akan kecewa?” Dia masih mengujiku.
“Kenapa Kakak harus kecewa? Kakak yakin suatu hari nanti Allah akan mengutus seorang KhalilullahNya untuk menjadi imam buat Kakak di dunia dan akherat seperti saat ini Dia mengutus seorang malaikat kecil yang tampan untuk menyadarkan Kakak kalau selama ini Kakak sudah menempuh jalan yang salah.”
“Alhamdulillahirobbil ‘alamiin. Kakak memang hebat! Inilah sikap seorang muslimah sejati.”
Ah, tak terasa air mataku mengalir. Muslimah sejati. Dulu aku bercita-cita ingin menjadi seorang muslimah sejati yang hanya mencintai Allah dan Rosulnya. Yang selalu berpegang teguh pada Dien-ku. Namun setelah bertemu Agung aku pun melupakan semuanya. Astaghfirullahaladziem… Ampuni hamba ya Allah. Bismillahirrohmanirroim… Ku ayunkan langkah pulang ke rumah. Kakiku terasa ringan, hatiku pun begitu. Entah kenapa aku sangat bahagia. Dalam hati berulang-ulang ku lafadzkan sebuah do’a terindah dalam hidupku Ya muqollabal qulubi tsabbat qulbii’aladienika yaa musorrofal qulubi tsabbat qulbii’ala thoo’atika. Wahai yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas dienMu, wahai yang mengubah-ngubah hati, tetapkanlah hatiku di atas ketaatan padaMu. Aamiin…

Cerpen Karangan: Siti Fatimah Binti Jafar
Facebook: Shifa Jafar

siti fatimah binti jafar
tempat tanggal lahir: wangga, 06 Juli 1982
alamat: jln. sultan agung, Rt 20/10 Desa kelurahan kamalaputi
Waingapu- Sumba Timur NTT

Kategori:Cerpen Islami
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: