Beranda > Cerpen Islami > Rahasia Allah Itu Indah

Rahasia Allah Itu Indah

99-cerpen-islami-1-l-280x280Cerpen Karangan: Aminah Hariati Hasibuan

Agustus 2009
Aku berdiri di gerbang, menatap dengan takjub ke bangunan bertingkat dua di hadapanku. Tak disangka aku seorang Safira Aulia Siregar, anak semata wayang Pengusaha Furniture yang selalu dimanjakan kedua orangtua ku itu kini telah menjelma menjadi seorang gadis cantik, dan kini telah menjadi seorang mahasiswi Kedokteran di salah satu Universitas Negeri terfavorit di Kota kelahiranku, Medan. “Firaaa, jangan bengong terus dong ayok masuk,” ucap Nina yang dari tadi berdiri di sebelahku dan langsung menarik lengan kiriku. Aku mengikuti Nina tanpa berkomentar apapun.

Tak berapa lama sampailah kami di lokal. Nina langsung bergabung dan bercengkerama dengan teman-teman lainnya, aku hanya duduk memandangi gelang manik-manik coklat yang melingkar di pergelangan tangan kananku. “Fir, kamu kenapa kok dari tadi bengong mulu sih?” ucap Nina yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku. “Ehh… gak.. gak apa-apa kok Nin”, sahutku gelagapan dan mencoba tersenyum. “Gak usah bohong deh Fir, nampak banget dari mata kamu, lagi mikirin apa sih? Atau lagi mikirin abang itu yaa?” selidik Nina. “Ehh abang yang mana Nin?” Jawabku sekenanya. “Firaa mah gitu gak mau cerita,” ucap Nina dengan nada kecewa. “Entahlah Nin, aku juga gak tau. Aku ngerasa gak tenang dari tadi, entah apa yang mengganggu fikiranku akhir-akhir ini”, jawabku sambil menunduk. “Eh dosennya dah datang Fir, nanti kita sambung lagi”, ucap Nina sambil membuka buku catatannya.
Hari ini memang awal perkuliahanku, tapi aku sama sekali tak bersemangat. Ragaku memang disini, tapi fikiranku entah dimana.

Perkuliahan selesai pukul satu siang. Aku langsung berlari kecil ke luar ruangan. Hari tampak gelap. Awan mendung tampak berjalan menutupi sinar mentari, angin yang bertiup membuatku merinding. Sebentar lagi akan turun hujan, pikirku. Aku tak suka hujan! Walaupun aku tau, selepas hujan akan ada pelangi indah yang muncul. Tapi entahlah aku tetap tak suka hujan. Hujan selalu mengingatkan ku dengan kecelakaan itu, kecelakaan yang membuat aku kehilangan abangku. Dan benar saja, tiba-tiba butiran air turun dari langit mengenai wajahku, aku terus berlari, melewati orang-orang yang juga sedang berusaha menghindar dari hujan. Semakin ku cepatkan langkah kakiku, hanya satu hal yang ada di benakku, segera mencari tempat berteduh, aku terus berlari dan tak menghiraukan orang-orang di depanku. Tiba-tiba aku menabrak sesuatu, sebuah benda tampak menggelinding dan tampak kertas bertebaran di kakiku, basah terkena hujan. Seseorang menunduk dan kemudian jongkok memunguti kertas-kertas itu, refleks aku ikut jongkok dan memunguti kertas itu, ku ucapkan kata maaf tanpa berani menatap seseorang di depanku itu. “Gak papa mbak, saya juga mau minta maaf saya buru-buru tadi,” sahut suara itu lembut. Ku beranikan mengangkat wajahku, dan aku terperanjat. Dia!!

Agustus 2011
Aku berdiri seorang diri disini, dengan seikat bunga di tangan. Hari ini adalah wisudanya mas Farhan. Yaa Farhan Ar-Rahman, seorang senior yang sangat ku kagumi sejak awal perkuliahan. Seseorang dengan kepribadian menarik, seseorang yang selalu bersikap sopan dan ramah kepada siapa saja, tak hanya tampan dia juga sangat pintar, itu terbukti dengan beasiswa yang selalu dia dapatkan di setiap semester. Tak heran kalau banyak wanita yang mengaguminya, termasuk aku. Mungkin lebih dari kata K-A-G-U-M.

Farhan tampak berjalan ke arahku dengan senyumannya yang khas. Ku berikan bunga yang tadi sengaja ku bawa sembari mengucapkan kata selamat untuk predikat cum-laude yang berhasil diraihnya. Dia membalasnya dengan senyuman walaupun tak menatapku, dia memang tak pernah menatapku, dia selalu menundukkan pandangan jika berbicara dengan yang bukan muhrimnya. Aku turut bahagia untuk wisudanya, tetapi juga ada kesedihan di hatiku. Mungkin ini pertemuanku yang terakhir dengan Farhan. Dia akan melanjutkan studinya di Pulau Jawa. Sepertinya Farhan dapat membaca fikiranku. “Kamu sendirian Fir?”, ucap Farhan tiba-tiba. “Ehh iyaa, eh enggak kok. Tadi sama Nina, tapi entah kemana dia sekarang”, jawabku gelagapan. “Minggu depan aku berangkat ke Jogja Fir”, ucap Farhan pelan. “Iyaa, aku udah tau”, jawabku pelan dan hampir tak terdengar. Diam, tak sepatah kata pun keluar dari mulut kami, terlalu sibuk dengan fikiran masing-masing. Ku biarkan ujung jilbab ku menari-nari dimainkan angin. “Tak adakah yang ingin kau ucapkan padaku sebagai kata-kata perpisahan?” tanyaku memecah kesunyian. Entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulutku. “Fir, semoga ada tidaknya aku di kehidupanmu nanti, tetaplah seperti Fira yang sekarang. Muslimah yang anggun dan selalu menjaga kehormatannya, semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya, Maaf jikalau selama ini aku mengecewakanmu. Aku memahami bagaimana perasaanmu, tapi aku hanya melakukan apa yang memang seharusnya ku lakukan. Jikalau kita memang berjodoh, suatu saat kita pasti dipertemukan kembali. Jaga dirimu yaa Fir”, ucap Farhan. Aku hanya terdiam, mulutku serasa terkunci, tak dapat mengeluarkan kata-kata. “Hati-hati di jalan”, hanya itu yang dapat ku ucapkan. Padahal sesungguhnya ada banyak hal ingin ku sampaikan, tapi aku tak mampu. “Baiklah Fir, kalau gitu aku pergi dulu ya, keluarga ku sudah menunggu, Assalamualaikum.” Ucap Farhan sekali lagi. “Waalaikumsalam”, jawabku pelan.

Farhan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan aku yang hanya berdiri mematung. Ku tatap punggung Farhan yang semakin lama menghilang tak tampak di pelupuk mata. Aku ingin menangis, pedih sekali rasanya hati ini. Ku tahan airmata ku agar tak terjatuh. Yaa aku mengerti untuk semua hal yang dilakukan Farhan. Dia memang pemuda yang sholeh, selalu menjaga prinsipnya. Masih teringat jelas di ingatanku, kejadian dua tahun lalu diawal perkuliahan. Aku yang sedang berlari di bawah hujan tak sengaja menabraknya, sejak saat itu aku mulai dekat dengannya, dekat dalam artian positif. Kami sering bertemu di perpustakaan kampus, di taman, atau di kantin. Tentu saja tidak berdua, selalu ada Nina dan Irfan sahabat Farhan di tengah-tengah kami. Farhan banyak mengajarkan tentang Islam kepadaku. Dia menjelaskan bagaimana Islam dengan jelasnya mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan. Itulah sebabnya Farhan tak pernah pacaran. Farhan benar-benar memberikan pengaruh positif kepadaku, sedikit demi sedikit aku mulai berubah, aku mulai mengenakan jilbab. Itu semua ku lakukan atas kesadaran sendiri dan tentu saja untuk mengharap ridho Allah, bukan demi Farhan. Walaupun sejujurnya aku mencintai Farhan, aku berharap suatu saat nanti Farhan menjadi imamku, tapi tak pernah ku katakan itu padanya, biarlah rasa ini hanya aku dan penciptaku yang tahu. Bukankah mencintai dalam diam itu indah. Aku percaya Rahasia Allah itu Indah.

Farhan benar-benar telah pergi dari kehidupanku. Semenjak kuliah di Jogja dia tak pernah menghubungiku, kami lost contact. Tapi aku tetaplah Safira Aulia, seorang muslimah yang selalu menjaga kehormatannya. Aku mulai bisa melupakan sedikit tentang Farhan, walaupun selalu kusebut dia dalam do’a ku.

Agustus 2013
Alhamdulillah Puji syukur ku ucapakan ke hadirat Allah, hari ini aku telah menyelesaikan kuliahku, ku lihat senyum bahagia di wajah kedua orangtua ku ketika namaku dipanggil ke depan sebagai mahasiswi berprestasi, walaupun tak mendapat predikat cum-laude, tapi aku tetap bersyukur. Setelah acara wisuda selesai aku segera keluar ruangan menemui keluargaku yang memang sengaja menghadiri hari bahagiaku. “Assalamualaikum Fira”, seseorang menyapaku dari belakang. “Waalaikumsalam”, jawabku membalikkan badan ke belakang. Ku lihat seorang pemuda tersenyum berdiri di hadapanku, mengenakan baju dan toga sama sepertiku, tapi aku tak mengenalnya. Ehh tunggu dulu, senyumnya! Aku seperti mengenal senyum itu. “Maaf, cari siapa yaa?” tanyaku dengan wajah bingung. “Maaf mengagetkan, saya Fadhli adeknya mas Farhan”, jawab pemuda itu sopan. Farhan! Aku terkejut setelah sekian lama tak mendengar nama itu lagi. Farhan tak pernah cerita kalau dia punya seorang adik yang seangkatan denganku. “oh ya saya mengenal Farhan, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku. “saya ingin menyampaikan salam mas Farhan, Dia ingin menyampaikan selamat atas wisudanya mbak Fira, dan dia memohon maaf tidak bisa hadir menyampaikannya secara langsung”, ucap Fadhli. “Terimakasih, bagaimana kabar mas Farhan?” tanyaku sambil tersenyum. Ternyata Farhan masih mengingatku. Fadhli tak langsung menjawab, dia terdiam kemudian menunduk. Kemudian Fadhli mengajak ku menjauh meninggalkan kerumunan orang-orang. Ku ikuti saja langkahnya. Tak berapa lama kemudian kami —aku dan Fadli terlibat obrolan yang serius dan Fadhli memberikan sebuah kotak berpita coklat kepadaku, warna kesukaanku. Butiran-butiran halus mengalir dari pelupuk mataku. Sungguh tak dapat ku menahannya.

Akhir tahun 2013
Alhamdulillah, ucap semua orang yang ada di ruangan ini bersamaan. Ku tatap mata Fadhli dan kuulurkan tanganku untuk menyalamnya, mas Fadhli menyambut tanganku kemudian mengecup keningku penuh ketulusan. Aku tersenyum, buliran air mata jatuh membasahi pipiku, air mata bahagia. Sungguh tak ku sangka, kini aku telah menjadi istri. Istri dari seorang drg. Fadhli Ar-Rahim. Yaa hari ini kami telah resmi menjadi sepasang suami istri, mas Fadhli menikahiku dengan mahar seperangkat alat sholat tunai. Semua keluarga hadir di acara bahagia kami, tapi mas Farhan sama sekali tak tampak batang hidungnya. Dia sudah bahagia disana, dia telah kembali kepada sang Pemilik-Nya, dia telah bertemu dengan bidadari-bidadari Surga yang telah dijanjikan Allah untuknya.

Ternyata mas Farhan punya penyakit Jantung bawaan yang sewaktu-waktu dapat merenggut nyawanya. Ketika penyakitnya kambuh, mas Farhan memberikan sebuah kotak berpita coklat kepada mas Fadhli, dia ingin Fadhli memberikannya padaku. Ternyata dia tak dapat bertahan lama, tiga bulan sebelum hari wisuda ku dia menghembuskan nafasnya. Malaikat maut datang menjemputnya, ternyata Allah lebih sayang kepadanya.

Sepeninggal mas Farhan, Fadhli sering mencari-cari info tentang aku, Safira Aulia, seorang gadis yang dicintai oleh abangnya yang ternyata masih satu fakultas dengannya. Dia sering memperhatikanku, mengikutiku, tapi dia belum berani menemuiku. Dia memutuskan menemuiku di hari wisuda kami. Disaat itulah Fadhli memberitahukan tentang Farhan padaku, dia memberikan sebuah kotak berpita coklat titipan Farhan, yang ternyata berisi sebuah gelang manik-manik coklat kesayanganku. Gelang yang selama ini tak kelihatan dimana wujudnya. Aku baru ingat, saat aku bertabrakan dengan Farhan ternyata aku menjatuhkan gelang itu. Saat itu juga dia berniat menemui orangtuaku untuk melamarku. Dia mengakui selama tiga bulan memperhatikanku, rasa cinta mulai hadir di hatinya, dan hasrat ingin memiliki semakin besar. Dia ingin aku menjadi ibu dari anak-anaknya nanti.

Januari 2014
Membuka lembaran baru, aku dan mas Fadhli memulai kehidupan rumah tangga kami di rumah sederhana ini. Di rumah inilah nantinya kami akan membesarkan anak-anak kami dengan penuh cinta. Mas Fadhli seorang imam yang bijaksana, dia tak kalah sholehnya dengan Farhan. Walaupun dia tak setampan mas Farhan, tapi aku mencintai suami ku karena Allah. Aku bersyukur menjadi istrinya, semakin ku sadari Allah memang selalu punya Rencana yang indah untuk hamba-hambanya. Rahasia Allah itu Indah.

Cerpen Karangan: Aminah Hariati Hasibuan
Facebook: Aminah Hariati Hasibuann

Kategori:Cerpen Islami
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: