Beranda > Cerpen Islami > Rona Bening (Part 2)

Rona Bening (Part 2)

99-cerpen-islami-1-l-280x280Cerpen Karangan: Ashfi Raihan
Di sebuah pondok modern di Jawa Timur…

RINDU
Kuterpaut dalam angan sepi
Dalam kekosongan jiwa
Jiwa yang rindu sapaan hangat
Belaian lembut kasih sayang
Teringat akan dekap manis rembulan sore
Namun, sang bintang kini mulai temaram
Sinarnya tak secerah langit kemarin
Pesonanya kini mulai pudar
Seakan hanya tinggal secerca noktah yang timbul dari wujudnya
Aku kini hanya tinggal seserpih mozaik tak bertuan
Hanya tinggal sebilah kenangan yang tak bertepi
Keinginan akan merdunya sapaan lintang, kini menggodaku
Tapi aku ini bukanlah dewi malam yang dengan setia menemani sang bintang
Aku ini tak sesetia pungguk yang merindu rembulan
Aku ini hanya sebutir debu yang hanyut di antara mozaik yang gilang gemilang
Aku hanya terseret gelombang arah para berlian anggun
Aku tertarik pada gumulan ombak pasang yang karena silaunya aku terbawa pada kilau pelangi
Aku terlalu merindu sapaan senyum
Aku terlalu rindu pada rembulan innocence
Pada bintang tak berekspresi
Pada awan datar itu
Dia rasakah rinduku ini?
Atau aku hanya menabur asa kosong?

Tiba-tiba…
“Hanifa, kamu dipanggil Bu Nyai. Diutus ke ndalem.”
“Ada apa Bu Nyai manggil aku, Mbak?”
“Mbak ndak tau Fa, tapi kelihatannya penting. Ya udah, cepet sowan kesana ya, ndak enak kalau misalnya beliau harus nunggu lama.”
“Iya, Mbak, makasih.”

Kenapa tiba-tiba Bu Nyai manggil aku, jangan-jangan ada sesuatu yang buruk terjadi. Ah, huznudzon aja deh.
Segera saja aku langkahkan kakiku menuju ndalem. Disana terlihat ramai, ada acara mungkin ya.
“Assalamu’alaikum,” salamku.
“Wa’alaikumsalam. Hanifa, masuk kesini, Nak,” Bu Nyai mempersilahkanku.
Aku menurut saja dan masuk ke dalam. Di ruang tamu itu, ada 2 anak perempuan Bu Nyai. Neng Vina, sama Neng Ria. Tapi tumben mereka ada disini.
“Nduk, jadi maksud umi manggil kamu kesini adalah, umi mau melamarkan kamu, untuk Rezky, anak umi yang baru saja lulus dari Madinah. Dia telah menyerahkan semua urusan pendampingnya pada umi. Dan umi rasa, belum ada yang lebih pantas mendampingi Rezky, selain kamu, Nduk.”
Ya Allah, apa ini, aku dilamar? Bagaimana ini, aku belum bisa.
“Kamu sudah tau Rezky kan? Dia anak lelaki kami satu-satunya. Dan, umi kira selama ini dia memang tertarik sama kamu. Jadi gimana, kamu mau terima atau tidak?”
Pinangan Umi Hafizah terlalu menuntutku. Aku harus gimana?
“E, Umi, maaf sebelumnya, bukannya Ifa tidak menghargai lamaran Umi dan keluarga. Tapi, izinkanlah Ifa meminta pendapat orangtua Ifa dan Ifa akan sholat istikharah dulu. Mohon umi dan keluarga besar, memberi kesempatan Ifa berfikir dulu,” kataku sangat hati-hati karena takut menyinggung.
“Ya, sudah umi duga kamu akan berkata seperti itu. Iya, umi dan keluarga besar akan ikhlas dan sabar menunggu, tapi hanya sampai malam sebelum acara Haflah Akhirussanah, bagaimana? Umi harap, sebelum akhirussanah kamu sudah memberi jawaban atas pinangan umi ini.”
“InsyaAllah, Umi.”

“Ya Allah, 2 tahun ini aku sudah memantapkan hati untuk Mas Raka. Tapi sekarang, Mas Rezky melamarku lewat Bu Nyai. Aku harus bagaimana Ya Rabb? Beri hambaMu ini petunjuk untuk memilih salah satu di antara 2 lelaki baik itu.”
Dewi malam seakan mengerti perasaanku malam ini. Aku harus izin pulang ke Jakarta besok. Aku nggak mungkin akan memutuskan secara sepihak hal penting seperti ini. Dan, aku akan menemui Mas Raka. Nggak tau kenapa sejak dari ndalem tadi, aku kefikiran terus sama dia.

“Jadi, Ifa harus gimana Yah, Buk? Ifa belum yakin sama Mas Rezky,” kataku pada ayah ibu setelah aku sampai di Jakarta dan aku ceritakan perihal lamaran Bu Nyai.
Ayah diam. Dan ibu hanya mencoba menenangkanku dari kegalauan ini.
“Ayah serahkan semua pada kamu, Fa. Ayah tau kalau kamu sayang sama Raka, tapi ayah juga nggak bisa maksa kamu untuk nerima lamaran Bu Nyai. Ayah sadar ayah telah banyak berhutang budi pada keluarga Kyai Ahmad, karena beliau yang sudah membiayai hidup ayah sejak ayah kecil hingga ayah berhasil seperti sekarang. Tapi yang menjalani ini nantinya adalah kamu, dan ayah akan tetap menerima semua keputusan yang kamu ambil,” kata ayah lesu.
“Mending kamu istikharah dulu, Fa. Ibu yakin, petunjuk Allah yang terbaik,” kata ibu menimpali.

3 malam berturut-turut aku pasrahkan semuanya hanya pada Allah. Siapapun yang Allah takdirkan untukku, itu pasti yang terbaik. Dan, hari pertama aku bermimpi membaca Al Qur’an surat Ar Rum, di sampingku ada seorang lelaki, nggak jelas itu wajah siapa. Hari kedua dan ketiga, aku mimpi hal yang sama, tapi 2 mimpiku terakhir, wajah itu samar-samar bisa kukenali.

Pagi ini aku nebeng ayah ke kampus. Tujuan pertama ngunjungin mantan calon almamater, dan yang kedua…

(Raka.)
Di warung ALA BEBEK SAYANG…
“Jadi hari ini lu mau ketemuan sama Hanifa?”
“Iye. Kemarin pak Ashfi telpon gue dan bilang kalau Hanifa hari ini mau ketemu gue.”
“Wah, selamet berjuang kalau gitu sob. Lu bakal ngelamar dia kan?”
Ngelamar? Ah, kenapa gue baru kepikiran ngelamar Hanifa sekarang ya. Tapi, apa gue udah yakin kalau Hanifa emang yang terbaik yang Allah takdirkan buet gue?
“Heh, bengong aje lu. Udah brangkat sono. Kasian si Hanifa lama nungguin lu.”

Gue sengaja markirin ni mobil jauh dari area kampus. Gue nggak mau kalau Hanifa berubah persepsi ke gue gara-gara gue udah kayak gini sekarang.
Semoga aja nggak ada yang ngeliat gue. Supaya gue aman nemuin Hanifa tanpa ketauan gue bawa mobil.

Mana ya Hanifa…
Nah kayaknya dia tuh.
“Assalamu’alaikum. Hanifa?” kataku menyapa, karena dari belakang kayaknya emang Hanifa.
“Wa’alaikumsalam.” Dia nengok sob.
SubhanaAllah. Kadar manisnya nambah 900% sob. Astaghfirullah, ngomonng apa sih gue. Mungkin gue terlalu kangen sama dia kali ya.
“Mas Raka, silakan duduk, Mas,” katanya malu-malu.
“Iya. Kamu apa kabar, Fa?”
“Alhamdulillah. Mas sendiri gimana kabarnya? Kayaknya udah makin sukses aja nih.”
“Alhamdulillah baik. Ah, kamu bisa aja. Kamu juga tambah kelihatan dewasa sekarang.”
“Lhoh, kelihatan tua dong berarti aku?”
“Ya nggak gitu juga maksudnya..!! Eh iya, kamu ada apa mau ketemu Mas? Ada yang penting ya pasti?”
“Iya. Mas masih inget, 2 tahun lalu, di tempat ini, Mas nyatain perasaan mas sama Ifa?” tanyanya tiba-tiba.
“Iya, pastinya mas masih inget. Dan kamu nyuruh mas sabar nungguin jawaban kamu, sampai kamu lulus kan?”
“He’eh. Dan sekarang, Mas mau denger apa jawaban Ifa?”
“Eh, em, ya kalau kamu udah punya jawaban, dan mantap dengan keputusan kamu, Mas siap dengerin?”
“Dan bisa nerima dengan ikhlas?”
“InsyaAllah.”
Gue narik nafas panjang-panjang. Nervous. Gue yakin satu hal, kalau Ifa udah ambil keputusan nerima gue misalnya, pasti dia nggak mau cuman main-main sama gue, atau sekedar kita pacaran nggak jelas.
“Bismillah, InsyaAllah Ifa menerima,” katanya.
“Apa? Serius, Fa? Kamu beneran nerima aku?”
“InsyaAllah. Tapi,” dia nggantung kata-katanya.
“Tapi apa, Fa?”
Kemudian, dia nyeritain perihal lamaran ibu Nyai pondokknya. Dan, tentang semua yang udah dilakuin keluarga bu Nyai untuk ayahnya selama ini. Ya Allah, bagaimana ini?
“Jadi, Ifa mohon, kalau misalnya Mas udah merasa yakin dengan Ifa, Mas temui ayah Ifa dan jujur Ifa nggak ingin menikah dengan Mas Rezky, dan Ifa cuman sayang sama Mas,” katanya menitikkan air mata.
“Eh, kamu kenapa nangis, Fa. Kamu tenang dulu ya, udah nggak usah sedih gitu. Mas juga sayang sama Ifa. Udah kamu tenang ya. Secepatnya, Mas akan ngasih kepastian sama orangtua kamu. Tapi sekarang senyum dulu dong, masak kamu yang murah senyum, tiba-tiba nangis gini, jelek tau.”
“Ih, Mas genit sekarang,” katanya sambil menghapus air matanya.
“Ah, Mas genit aja kamu juga tetep sayang sama Mas. Udah, senyum dulu dong, smile,”
“Ni, udah senyum. Udah puas?” katanya memamerkan senyum termanis yang pernah gue lihat.
“Nah, gitu dong.”
Ah, senengnya kalau lihat bidadari satu ini udah bisa senyum lagi. Dan sekarang waktunya gue ngasih kejutan ke dia. Ifa, mas janji bakal ngelamar kamu jadi istri mas, jadi ibu buat anak-anak mas nantinya. Kamu sabar dulu ya sayang.

(Hanifa.)
Seminggu kemudian di pondok…
Besok aku resmi diwisuda dan lulus dari pondok. Ya Allah, berarti hari ini aku harus memberikan jawaban atas pinangan Bu Nyai. Beri aku kekuatan Ya Rabbi, untuk mengutarakan jawabanku. Semoga Engkau memberikan yang jauh lebih baik pada Mas Rezky dan seluruh keluarganya.
“Ifa, Pak Kyai manggil kamu dek, beliau minta kamu ke ndalem sekarang.”
“Iya mbak, makasih infonya.”
“Fa,” Dea tiba-tiba udah ada disampingku.
“Eh, kamu De.”
“Kamu beneran udah yakin?” dia sahabat baikku, wajar kalau dia masih saja khawatir akan yakin tidaknya aku dengan keputusanku ini.
“InsyaAllah. Bantuin do’a ya,” kataku.
“Iya, pastinya,” katanya sambil memelukku.
Bismillah, aku sudah yakin dengan keputusanku ini.

“Sebelumya bapak minta maaf, Nduk. Bukannya kami merasa kamu tidak baik untuk Rezky. Tapi justru karena kamu terlalu sempurna untuk dia, jadi Abah memutuskan untuk membatalkan kithbah yang waktu itu disampaikan bu Nyai. Abah tidak memutuskan sepihak, tapi ini semua sudah kami musyawarahkan matang-matang dengan seluruh keluarga, dan ini keputusan terbaik yang dapat kami ambil,” kata Abah Kyai, di depan orang tuaku serta keluarga besar beliau sendiri.
“Iya, Nduk, Umi minta maaf kalau mungkin ini mengejutkan kamu. Tapi, kami benar-benar ndak ada maksud untuk mengecewakan kamu dengan hal ini,” kata bu Nyai penuh sesal.
“Maaf sebelumnya Pak Kyai, tapi, kalau boleh kami tahu, alasan apakah yang membuat Pak Kyai dan sekeluarga membatalkan hal ini?” tanya Ayah.
“Iya, tadi siang ada seorang pemuda datang kesini. Dia mengutarakan semua perasaannya, tentang dia yang ingin berhubungan serius, dan menjalankan sunnah Rasul dengan seorang gadis di pondok ini,” kami semua mendengarkan dengan khitmad tiap kata yang di ucapkan pak Kyai.
“Dan aku yakin, pemuda itu adalah pemuda baik-baik. Dan yang ingin dia lamar adalah anakmu ini Ashfi, Hanifa. Aku sendiri menyadari, bahwa aku juga mengharapkan Hanifa jadi menantuku. Namun, alangkah tidak baik, kalau aku dan anakku menyela khitbahnya pada anakmu 2 tahun lalu. Dan aku putuskan untuk membatalkan kithbahku, dan melamarkannya untuk anakmu,” jelas pak Kyai.
Ya Allah, siapa yang dimaksud pak Kyai?
“Hanifa sudah dikhitbah 2 tahun yang lalu? Tapi, setahu kami, belum ada yang datang kepada kami dan melamar Hanifa, Kyai,” kata ayah terkejut.
“Iya, memang, dia belum menemui kamu Ashfi, tapi, dia sudah mengutarakannya pada Hanifa. Dan itu sudah aku anggap dia mengkhitbah anakmu, meskipun waktu itu Hanifa belum memberi jawaban.”
Deg..
Mungkinkah?

(Raka)
“Ini, orang yang telah mengkhitbah anakmu. Nak, kemarilah,” pak Kyai udah manggil gue. Hadeh, nervous banget gue.
“Udah, Sob. Bismillah aja,” kata Ilham menenangkan.
Sejurus kemudin gue keluar menuju ke ruang tamu. Gue liat disana udah banyak orang yang nungguin dengan penasaran. Gue langsung duduk di samping pak Kyai.
“Nah, ini dia yang telah melamar anak kamu. Namanya Raka Prasetya. Aku yakin kamu sudah sangat mengenalnya, karena dia bilang, dia adalah mahasiswa kamu. Trus, skarang gimana Ashfi, apa kamu mau menerima lamaran Raka untuk anakmu, Hanifa?” tanya pak Kyai.
“Ya, kalau saya terserah Hanifa saja Kyai. Yang akan menjalani nantinya kan Hanifa, jadi, saya serahkan semua keputusan pada Hanifa,” kata ayah Hanifa.
“Gimana, Nduk, kamu nerima apa nggak? Jangan bikin Raka tambah grogi. Liat, dia udah keringat dingin tuh dari tadi,” kata Kyai.
Semua yang hadir tertawa mendengar kata-kata pak Kyai. Aduh, tambah grogi beneran gue.
Hanifa melihat sebentar kearahku. Aduh Fa, jangan diem aja, ayo cepetan jawab, mas makin grogi nih, disini.
Hanifa cuman diem aja, tapi Pak Kyai mengejutkanku dengan kata-katanya.
“Kalau kata orang Jawa, diam artinya setuju. Iya kan, Nduk. Raka, lamaran kamu diterima, Nak,” kata Kyai.
“Alhamdulillah,” serentak semua yang hadir mengucap syukur. Tak terkecuali gue.
“Lalu, kapan rencananya kalian akan melaksanakan akad nikahnya, Nak?” tanya beliau.
“InsyaAllah kalau Pak Ashfi dan keluarga setuju, Hanifa dan pak Kyai juga setuju, kami akan melaksanakan akadnya besok pagi, sebelum haflah,” kataku mantap.
Gue yakin Hanifa pasti kaget banget sama hal ini. Tapi, Alhamdulillah, semua setuju termasuk dia.

Keesokan paginya, acara akad nikah digelar. Acara yang cuman dipersiapin semalam, akhirnya jadi, dan disaksikan oleh Allah, para malaikatNya, dan seluruh santri pondok, kami mengucap ikrar suci pernikahan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan haflah, yang sekaligus walimatul ursy kami. Semua bersuka cita ganda hari ini. Tak ketinggalan, para bebek di kandang, siap disajikan menjadi sajian yang nikmat hari itu.
“Mas.”
“Ya, kenapa sayang?”
“Kamu jahat banget sih.”
“Lhoh, jahat kenapa?”
“Abisnya, kamu nggak bilang dulu kalau mau dateng kesini,”
“Ha, ha, itu kan kejutan, kalau mas kasih tau, namanya nggak kejutan dong,”
“Ih, dasar,” katanya sedikit cemberut. Tapi masih manis kayak biasanya. Dengan kebaya dan jilbab putih sebersih salju. Bidadariku ini duduk anggun di sampingku. SubhanAllah, Maha Suci Engkau Ya Rabb.
“Tapi kamu tetep seneng kan? Kan Mas udah tepatin janji mas buat ngelamar kamu.”
Dia hanya tersenyum. Kemudian aku menggenggam tangannya.
“Sayang, jadilah selalu bidadari yang menjadi penyejuk, dan penyinar untuk mas, dalam menjalani masa-masa perjuangan yang akan kita hadapi setelah ini.”
“InsyaAllah sayang,” katanya.
Alhamdulillah Ya Rabbi, atas sagala Karunia Engkau.
The end…

Cerpen Karangan: Ashfi Raihan
Blog: toknowthefuture.blogspot.com
Nama: Ashfi Raihan

Kategori:Cerpen Islami
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: